Senin, 18 Maret 2013

Tahun Liturgi dalam Konstitusi Sacrosanctum Concilium



BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG
Liturgi merupakan perayaan misteri karya keselamatan Allah kepada manusia. Dalam liturgi, Yesus menjadi pusat perayaan sebab dalam Dia segala wahyu Allah telah mencapai puncaknya. Yesus yang menderita, wafat di kayu salib dan akhirnya telah bangkit dengan kemuliaan, telah menghantar manusia menuju pada persatuan dengan Allah Bapa di surga. Karya keselamatan Kristus diperingati oleh Gereja dalam perayaan-perayaan suci hari-hari tertentu sepanjang tahun. Selain itu, para kuduspun diperingati oleh Gereja sepanjang tahun liturgi, sebab mereka telah berjuang dan mati dalam Yesus.
Gereja mengenangkan Kebangkitan Tuhan sekali sepekan yakni pada Hari Minggu. Secara khusus, perayaan Paskah yang dirayakan oleh Gereja sekali dalam setahun, yang merupakan puncak iman bagi kehidupan Gereja. Namun dalam kenyataan sehari-hari, banyak umat dan diantara kita yang belum mengetahui secara pasti makna dari tahun liturgi itu sendri, terutama dalam perayaan mengenangkan kebangkitan Tuhan tersebut. Seringkali kita menganggap bahwa hari Minggu layaknya seperti hari-hari biasanya saja. Sehingga kita bisa memiliki pandangan kalau kita datang ke gereja hanya sebagai suatu kewajiban saja, tanpa menghayati makna perayaan tersebut sebagai karya keselamatan dari Allah kepada kita. Tahun liturgi memiliki makna sebagai karya keselamatan Allah, dimana kita ikut ambil bagian didalamnya dengan merayakannya. Oleh karena itu, tahun liturgi harus senantiasa dimaknai secara tepat, dan secara pribadi kita diajak untuk menggumuli misteri Kristus yang tersirat sepanjang tahun liturgi.

B.  RUMUSAN MASALAH
1.    Apa saja gagasan pokok masing-masing artikel didalam Bab Tahun Liturgi?
2.    Bagaimana tanggapan/komentar terhadap Bab Tahun Liturgi?
3.    Bagaimana relevansinya bagi saya sebagai calon katekis?
C.   TUJUAN
Penulisan makalah ini bertujuan supaya kita sebagai murid-murid Yesus dapat mengetahui pentingnya tahun liturgi, dapat memahami dan menghayati makna dari perayaan liturgi sepanjang tahun liturgi. Kita diajak untuk tanggap terhadap masalah yang dihadapi saat ini dengan memberikan komentar/kritikan, sehingga kita mengetahui relevansinya sebagai calon katekis.

BAB II
TAHUN LITURGI

A.  GAGASAN POKOK
Art. 102 (Makna Tahun Liturgi)
Gereja senantiasa merayakan karya penyelamatan yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus setiap tahunnya. Secara khusus pada hari raya Paskah, yang merupakan karya keselamatan terbesar bagi umat manusia. Gereja dalam seminggu sekali mengenangkan kebangkitan Yesus yakni pada Hari Tuhan. Selama setahun, Gereja memaparkan seluruh misteri Kristus. Misteri Kristus yang diawali dengan penjelmaan, kelahiran Yesus, misteri Paskah (sengsara, wafat, bangkit), kenaikanNya, Pentakosta dan sampai pada penantian kedatangan Tuhan yang penuh bahagia dan harapan. Dengan misteri penebusan tersebut, Gereja membuka bagi kaum beriman untuk turut serta menghadiri perayaan tersebut. Dengan demikian, umat beriman dapat memperoleh karya keselamatan dari Allah.

Art. 103
Gereja suci menghormati Santa Maria Bunda Allah yang penuh dengan cinta kasih yang istimewa. Gereja menghormatiNya, sebab terdapat hubungan yang tak terpisahkan dalam karya penyelamatan oleh PuteraNya. Gereja sungguh mengagumi Bunda Maria yang penuh dengan kemuliaan dalam buah penebusan dan kegembiraan yang telah didambakan oleh manusia.

Art. 104
 Didalam lingkaran Tahun Liturgi, Gereja mencantumkan para martir dan orang-orang kudus. Sebab mereka telah terlibat dalam misi pewartaan kepada manusia dan ikut ambil bagian dalam penderitaan bersama Yesus. Maka, Gereja memberikan pencerahan kepada umat beriman agar dapat meneladani mereka yang telah menderita dan dimuliakan bersama Kristus.

Art. 105
Gereja sepanjang tahun tetap menganut adat istiadat yang telah diwariskan sejak dahulu. Maka, Gereja telah menyempurnakan pembinaan iman bagi umat beriman melalui kegiatan-kegiatan yang sungguh amat baik dan kegiatan tersebut bersifat rohani dan jasmani.

Art. 106 (Makna Hari Minggu Ditekankan Lagi)
Perayaan hari Minggu merupakan dasar dan inti segenap tahun liturgi. Sebab Gereja merayakan misteri Paskah sekali seminggu, yang lebih tepatnya disebut dengan Hari Tuhan. Perayaan ini berasal dari Tradisi para rasul yang bersumber pada kebangkitan Kristus. Dengan demikian, umat beriman wajib berkumpul untuk merayakan misteri tersebut, mendengarkan Sabda Tuhan dan ikut serta dalam perayaan Ekaristi.

Art. 107 (Peninjauan Kembali Tahun Liturgi)
Tahun Liturgi perlu dilakukan peninjauan kembali sedemikian rupa. Hal ini dilakukan supaya ciri aslinya yang telah diwariskan secara terus menerus tetap selalu dipertahankan. Namun demikian, tetap memerlukan penyesuaian-penyesuaian seturut dengan situasi keadaan setempat.

Art. 108
Hari raya Tuhan menjadi pusat perhatian yang pertama bagi kaum beriman. Sebab dalam hari raya tersebut, dirayakan misteri keselamatan sepanjang tahun. Untuk itu, hari raya Tuhan hendaknya didahulukan dari hari atau pesta-pesta para kudus, sehingga misteri keselamatan selalu dikenangkan.

Art. 109 (Masa Prapaskah)
Pada masa ini, terdapat dua ciri khas masa “empat puluh hari”, yaitu mengenangkan atau menyiapkan baptis dan membina pertobatan. Masa ini merupakan masa untuk menyiapkan umat beriman mendengarkan sabda Allah dan berdoa. Hendaknya beberapa unsur dari tradisi zaman dahulu dikembalikan jika memang dipandang memiliki manfaat tersendiri. Hakikat khas pertobatan yakni menolak dosa sebagai penghinaan terhadap Allah. Maka perlu ditanamkan dalam hati umat mengenai dampak dosa sosial dan menganjurkan berdoa bagi para pendosa.

Art. 110
Pertobatan yang dilakukan selama masa empat puluh hari hendaknya bersifat lahir dan sosial kemasyarakatan. Pertobatan hendaknya semakin digairahkan sesuai dengan keadaan yang ada di zaman ini. Puasa Paskah harus senantiasa dipandang keramat dan dilaksanakan pada hari Jumat kenangan Sengsara dan Wafat Kristus.


Art. 111 (Pesta Para Kudus)
Pesta Para Kudus merupakan bentuk perayaan untuk mewartakan karya-karya agung Kristus yang ada dalam diri mereka. Gereja sungguh menghormati para kudus, sebab mereka menjadi hamba Kristus yang sejati dan menjadi teladan bagi kaum beriman. Meskipun demikian, hari raya misteri keselamatan Allah tetap menjadi yang utama. Sehingga perayaan para kudus ini hendaknya hanya perayaan untuk mengenangkan para kudus yang sungguh penting bagi Gereja.

B.  TANGGAPAN/KOMENTAR
Konstitusi Sacrosanctum Consilium memberikan pemahaman yang baru mengenai liturgi. Sebelum Konsili Vatikan II, perayaan liturgi tidak dilihat dan dipahami sebagai suatu kesatuan yang utuh didalam peredaran tahun. Namun setelah diadakannya Konsili Vatikan II, Liturgi dimaknai sebagai perayaan untuk mengenangkan misteri keselamatan Allah yang terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Sehingga secara khusus KV II menghadirkan pengertian yang lebih mendalam mengenai Tahun Liturgi, dan kemudian disusun dan senantiasa dikembangkan. Oleh karena itu, Bab 5 tentang Tahun Liturgi ini, yang terdapat didalam Konstitusi Sacrosanctum Consilium sungguh berguna bagi kita semua supaya dapat memahami dan menghayati dalam diri kita akan pentingnya karya keselamatan Allah yang senantiasa berada dalam peredaran tahun liturgi.
Makna Tahun Litrugi perlu disosialisasikan secara terus menerus kepada umat beriman. Hal ini dilakukan mengingat tidak semua umat memiliki DKV II yang didalamnya membahas mengenai Tahun Liturgi. Untuk itu, sosialisasi terhadap Tahun Liturgi sungguh penting untuk mengarahkan umat pada misteri keselamatan yang dirayakan dan dapat membantu umat untuk menyelami seluruh isi Kitab Suci.
Makna perayaan hari Minggu perlu ditekankan dan dijelaskan kepada umat beriman. Seperti yang terdapat dalam artikel 106. Hari minggu menjadi inti dari seluruh tahun liturgi. Sebab misteri karya keselamatan Allah terpenuhi pada hari itu. Penjelasan pentingnya hari Minggu dapat membantu umat beriman menyadari bahwa ia sungguh hadir dan menerima keselamatan dari Allah. Sehingga umat beriman tidak sekedar datang ke gereja hanya suatu kewajiban sebagai umat kristiani atau karena malu bila tidak rajin sembayang di gereja. Namun memiliki penghayatan yang mendalam untuk ikut ambil bagian dalam hidup bersama Allah. Maka, dokumen ini sungguh perlu dijelaskan kepada umat beriman dan tidak hanya sebagai bukti tertulis saja. Tetapi sebaliknya, secara nyata umat beriman sungguh mengalami keselamatan dari Allah dengan ikut serta dalam perayaan hari Minggu.
Terdapat 10 artikel didalam Bab Tahun Liturgi ini. Secara umum membahas mengenai perayaan-perayaan karya keselamatan Allah. Meskipun terdapat perayaan-perayaan tertentu misalnya devosi, menghormati para orang kudus, dan sebagainya. Dalam kenyataan sehari-hari, banyak umat yang sungguh mengagungkan mereka. Sebenarnya mereka itu sebagai sarana dan perantara doa kita kepada Allah. Oleh karena itu, umat beriman perlu mendapat penjelasan yang lebih detail mengenai kedudukan mereka dalam perayaan liturgi.
Selain itu, artikel 109 dan 110 memberikan pemahaman mengenai masa prapaskah. Pada masa ini, pertobatan perlu diberi penekanan yang serius mengenai makna yang terkandung didalamnya. Seperti yang telah diketahui bahwa Gereja menganjurkan puasa dan pantang sebagai sarana pertobatan kita menuju keselamatan dari Allah. Hal itu menuntut pengorbanan dari kita dengan menolak segala keinginan duniawi. Saya sangat setuju dengan artikel 110 dimana pertobatan itu tidak hanya bersifat batiniah saja, melainkan juga bersifat lahiriah karena pertobatan yang kita lakukan harus tampak secara nyata dalam perbuatan sehari-hari.

C.  RELEVANSI BAGI SAYA SEBAGAI CALON KATEKIS
Secara pribadi saya baru mengetahui dan menyadari pentingnya liturgi dalam hidup sebagai umat kristiani. Dahulu saya menganggap bahwa perayaan liturgi hanya sebagai bentuk sarana bagi saya untuk berdoa kepada Allah. Namun setelah mempelajari dengan sungguh tentang liturgi, saya mendapat pengetahuan dan pengalaman yang lebih bahwa ternyata liturgi sebagai pusat misteri karya keselamatan Allah kepada semua manusia. Dokumen ini sungguh relevan sekali bagi saya sebagai calon katekis untuk memperbaiki hidup rohani dan sebagai pedoman bagi saya untuk memberi pengajaran tentang liturgi kepada umat.
Secara khusus, Bab 5 tentang Tahun Liturgi ini memberi pemahaman yang sungguh berguna bagi saya untuk menjalankan tugas pelayan Gereja. Saya semakin meyakini pentingnya perayaan hari Minggu sebagai inti dari tahun liturgi. Sebab sebagai calon katekis, saya harus menanamkan misteri Paskah sebagai bekal untuk tugas pewartaan dan pelayanan Gereja. Selain itu, hari Minggu menjadi karya keselamatan dari Allah kepada umatNya, yang harus diwartakan kepada semua umat supaya umat sungguh dapat memahami dengan tepat makna hari Minggu didalam lingkaran tahun liturgi. Dalam hal ini, dokumen ini sungguh membantu saya untuk memberi pemahaman kepada umat mengenai makna hari Minggu sebagai karya keselamatan Allah. Sehingga umat tidak merasa sebagai kewajiban untuk hadir di perayaan hari Minggu, melainkan umat turut serta ambil bagian dalam karya keselamatan dari Allah tersebut.
Didalam Bab 5 tentang Tahun Liturgi ini, terdapat 10 artikel yang secara umum membahas tentang perayaan keselamatan Allah. Meskipun tidak begitu dijelaskan secara mendetail, tetapi memberi gambaran kepada saya bahwa terdapat begitu banyak perayaan selama periode tahun liturgi. Untuk itu, bab ini memberi tuntutan bagi saya untuk memahami dengan lebih perayaan-perayaan penting yang harus mendapat perhatian. Sehingga menjadi bekal bagi saya dalam pelayanan perayaan gerejani.
Selama periode tahun liturgi, Gereja mengenangkan misteri keselamatan yang berpuncak pada diri Yesus Kristus. Namun Gereja juga menyisipkan perayaan lainnya seperti pesta para kudus, para martir, dan sebagainya. Dalam kenyataan sehari-hari, banyak umat yang lebih mengagungkan mereka. Sehingga sebagai calon katekis harus sungguh menanamkan dalam hidup saya mengenai keselamatan dari Allah yang berpuncak dalam diri Yesus Kristus. Hal ini penting supaya dapat memberi pemahaman yang tepat kepada umat, sehingga tidak terjadi kesesatan dalam memaknai perayaan-perayaan tersebut.


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Karya keselamatan Allah kepada umat manusia tidak berhenti begitu saja dengan memuncaknya wahyu dalam diri Yesus Kristus. Melalui misteri Paskah, kita diundang untuk menyelaminya sehingga karya keselamatan sungguh dapat kita terima. Karya keselamatan Allah ini yang senantiasa kita rayakan sepanjang tahun liturgi, yang secara khusus perayaan untuk mengenangkan kebangkitan Tuhan. Tahun liturgi merupakan perayaan misteri keselamatan sepanjang tahun. Oleh karena itu, tahun liturgi hendaknya senantiasa dimaknai dengan baik, sebab dalam tahun liturgi terdapat berbagai perayaan yang semuanya menuju pada karya keselamatan dari Allah kepada kita semua.
Gereja dalam bimbingan Roh Kudus, telah merumuskan suatu konstitusi mengenai liturgi, yakni Sacrosanctum Consilium. Konstitusi ini mencantumkan sebuah pokok pembahasan yang perlu dimaknai secara tepat yaitu mengenai Tahun Liturgi. Terdapat sepuluh artikel didalamnya, yang pada umumnya mengarah pada karya keselamatan Allah kepada umat manusia. Masing-masing artikel memiliki gagasan pokok yang memberi kemudahan kepada kita untuk memahami dengan baik mengenai tahun liturgi. Namun demikian, tanggapan atau komentar terhadap tahun liturgi sungguh diperlukan. Sebab dengan hal ini, kita dapat mengetahui dengan baik mengenai makna yang terkandung didalamnya. Sehingga kita memperoleh relevansinya yang dapat membantu kita untuk menjadi seorang katekis yang mampu menanggapi kebutuhan yang dihadapi oleh umat.

Misteri Allah Tritunggal



MISTERI ALLAH TRITUNGGAL
           
            Ajaran tentang Allah Tritunggal memang sulit dipahami dan sulit untuk dijelaskan. Manusia tidak akan pernah puas untuk mencari jawaban tentang misteri Allah Tritunggal. Namun, Allah senantiasa berada dalam persekutuan kekal yang penuh kasih antara Bapa, Putera dan Roh kudus. Manusia yang mengimani Kristus telah ikut ambil bagian dalam persukutuan yang penuh kasih dan kekal ini. Allah tetaplah menjadi misteri untuk tidak pernah diketahui jawabannya. Ketika kita berhasil menemukan jawaban dan merumuskan Allah yang penuh misteri dan tidak terselami dengan akal budi manusia yang terbatas, maka Allah bukanlah Allah lagi. Allah telah berhenti menjadi Allah dan akan menjadi sebuah rumusan ciptaan manusia. Misteri tentang Allah bukanlah sebuah teka-teki karena teka-teki itu harus dipecahkan. Misteri Allah merupakan ajaran Tritunggal Yang Esa bagi iman kristen. Demikian juga mengenai Allah Tritunggal, Misteri Allah Tritunggal bukan untuk dipecahkan melainkan untuk dikagumi dan dihayati kemisteriannya, diilhami untuk menjadikan motivasi bagi kita untuk berbuat baik kepada siapa saja serta dijadikan landasan untuk selalu mewartakan Sabda Tuhan kepada semua orang demi kemuliaan Allah. Pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah, telah mengubah sudut pandang iman kristen tentang Allah. Akhirnya Gereja merumuskan ajarannya tentang Allah ke dalam Tiga Kepribadian menjadi Satu (Tritunggal) yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus. Ajaran inilah yang kemudian dihayati oleh umat kristen yang sungguh percaya dan mengimani Allah sebagai Maha Kuasa.
            Tritunggal Maha Kudus adalah sebuah misteri yang tidak dapat ditembus oleh akal budi manusia. Tritunggal yang terdiri dari Tiga Kepribadian yaitu Bapa, Putera dan Roh Kudus tetap menjadi Allah Yang Esa. Tritunggal memiliki kegiatan yang satu dan sama tetapi setiap Pribadi Ilahi yang hadir dalam kehidupan manusia tetap sesuai dengan kekhususannya dalam Tritunggal.
Allah adalah Maha Kuasa. Dia berkuasa atas segala-galanya yang ada. Kemahakuasaan Allah menyebabkkan Allah itu abadi. Allah tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir yang berarti bahwa Allah itu  selalu ada dan tidak pernah tidak ada karena Allah merupakan sumber kehidupan yang menciptakan segala yang ada. Dalam kehidupan manusia, Allah ialah yang Maha pengasih dan penyayang. Allah memberi segalanya apa yang manusia minta dariNya. Seluruh kekayaan hidup bisa ditemukan dalam Allah karena manusia memuliakan Allah sebagai sumber kehidupan. Di luar Allah tidak ada kehidupan karena Allah adalah satu-satunya sumber penyelenggaraan kehidupan. Orang beriman kristen mengakui Allah yang Esa. Tetapi tidak hanya Allah yang Esa saja melainkan  Yesus Kristus juga Esa yang menjadi utusan Allah sebagai perantara hubungan antara Allah dengan manusia.
            Berkat rahmat, manusia mempunyai iman yang teguh akan Allah. Manusia yang mempunyai iman dalam dirinya memperoleh pengharapan untuk mengenal Allah dan iman itu mempertemukan manusia secara sungguh-sungguh denngan Allah. Walaupun manusia dengan imannya dapat mengenal Allah tetapi Allah tetap Allah dan menjadi misteri yang tidak akan pernah diketahui jawabannya. Tidak seorang pun yang dapat melihat Allah. Iman akan Allah mempunyai penghayatan yang mendalam dalam Kristus dan Roh Kudus. Berkat Roh Kudus, iman kepercayaan akan Allah senantiasa dicurahkan ke dalam diri manusia. Orang beriman tidak hanya percaya kepada Yesus saja melainkan percaya juga kepada Allah yang telah mengutus Yesus. Allah telah mewahyukan Diri melalui Yesus Kristus dalam rupa manusia. “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaann yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1:14).
Walaupun demikian, Allah tetaplah misteri yang tidak mungkin terpecahkan dan tidak pernah diketahui jawabannya oleh iman dan akal budi manusia. Kristus telah memuliakan dan mewahyukan Allah melalui sabdaNya, “Barang siapa melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Jika dipahami dan dihayati dengan menggunakan realitas dan npiikiran manusia saja, maka wahyu itu akan dipikirkan bahwa ketika manusia melihat Yesus dalam kesehariannya (foto/gambar yesus, patung Yesus), maka manusia sungguh melihat Allah dalam kehidupan sehar-hari. Walaupun Kristus adalah wahyu Allah tetapi Allah tetaplah misteri dan dalam diri Kristus pun keallahan tidak tampak. Kristus telah datang ke dunia ini sebagai kesempurnaan wahyu Allah. Dengan segala kebaikan dan kebijaksanaanNya, Allah berkenan mewahyukan diriNya dan memaklumkan rahasia kehendakNya. Allah mengutus Kristus yaitu Sabda yang menjadi Daging, dalam Roh Kudus supaya manusia dengan berkat iman dapat menghadap Bapa. “Karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.”(Ef 2:18). Meskipun dengan kedatangan Kristus, manusia tetap tidak bisa melihat Allah karena Allah tetap tidak kelihatan dan gambaran mengenai Allah tetap tidak sama dengan Allah sendiri. Allah tetaplah sebuah misteri yang tidak mungkin bisa terpecahkan.
            Didalam Tritunggal Mahakudus, Allah menyatakan kemuliaanNya melalui PuteraNya. Allah mengutus PuteraNya yaitu Yesus sebagai Sabda yang menjadi Daging untuk kesempurnaan dan kepenuhan wahyu. Pewartaan Yesus merupakan suatu kabar gembira yang pertama-tama dari Allah. “Anak Allah yang hidup” yang kemudian disalibkan, wafat dan bangkit dari kematian. Yesus berarti Allah yang menyelamatkan, sesuai dengan identitasNya untuk menyelamatkan umatNya dari dosa dan maut. Kristus berarti yang diurapi sehingga Allah sungguh menguduskan PuteraNya. Yesus merupakan Kristus karena Dia dikuduskan oleh Allah, diurapi oleh Roh Kudus untuk misi penebusan. Secara hakekat, Yesus bukanlah makhluk ciptaan Allah. Yesus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Dia adalah buah pikiran Bapa, yang berasal dari “lubuk hati” Allah. Yesus itu abadi karena Dia lahir dari Bapa dan bersama dengan Bapa tidak mempunyai awal dan akhir. Dalam kehidupan Yesus, Dia adalah Allah dan Terang Dunia. Yesus telah ikut ambil bagian dalam menciptakan segala sesuatu bersama Bapa dan Roh Kudus. Karya keselamatanNya adalah untuk semua bangsa. Yesus merupakan sungguh-sungguh Allah dan sungguh manusia dalam kesatuan Pribadi Ilahi dalam Tritunggal Mahakudus. Hidup Kristus merupakan misteri keselamatan yang menghantar manusia ke misteri KeputeraanNya yang Ilahi. Yesus menyelamatkan manusia dari kuasa dosa dan kembali mempersatukan manusia dengan Allah melalui wafat dan kebangkitanNya.
            Melalui pembaptisan, manusia telah memperoleh rahmat sehingga manusia dilahirkan kembali dalam Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Melalui Roh Kudus, manusia dapat mengetahui tentang Allah dan Putera yang hidup dan berkuasa, meskipun Tritunggal tetap sebuah misteri. Roh Kudus di wahyukan terakhir dari pribadi-pribadi Tritunggal Mahakudus. Tetapi melalui rahmat Allah, Roh Kudus yang pertama membangkitkan iman dan  mengkomunikasikan kehidupan manusia yang mengakui Bapa dan Yesus sebagai kekal dan kuasa. Roh Kudus adalah pribadi ketiga Allah yang Mahakuasa. Dia adalah Tuhan Allah. Dia juga sehakekat dengan Bapa dan Putera yang disembah dan dimuliakan oleh manusia. Roh Kudus adalah Allah yang menguduskan dan selalu hadir dalam hati manusia. Roh Kudus telah menciptakan hubungan yang erata antara Allah dengan manusia. Roh Kudus selalu bersabda dalam hati manusia untuk selalu berbuat baik kepada semua orang. Melalui Roh Kudus, umat beriman bersatu dengan persekutuan Kristus bersama Allah Bapa di surga.

Contoh Katekese Remaja



KATEKESE REMAJA

Tema              : Memahami Sakramen Ekaristi
Waktu            : 90 menit
Peserta          : Remaja Katolik Stasi St. Agustinus, Ds.Paribang Baru, Kabupaten Sintang

I.         Pemikiran Dasar
Dalam kehidupan Gereja terdapat tujuh sakramen. Ketujuh sakramen ini sebagai bentuk persatuan Gereja dengan Kristus. Salah satu sakramen yang penting ialah Sakramen Ekaristi. Mengapa dikatakan penting? Sebab sakramen ini sebagai sumber dan puncak kehidupan Gereja, karena terkandung kekayaan iman Gereja yakni Yesus Kristus. Yesus sendiri yang menetapkan Ekaristi pada saat perjamuan terakhir sebagai tanda kenangan yang dipercayakan kepada Gereja. Dalam hal ini, Sakramen Ekaristi perlu dihayati oleh segenap anggota Gereja, termasuk bagi remaja katolik Stasi St.Agustinus.
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa dan ditandai dengan perkembangan yang sangat cepat dari aspek fisik, psikis dan sosial. Menurut psikologis, remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Sedangkan dari segi sosiologis bahwa remaja sudah bisa menjalin hubungan atau relasi dengan keadaan disekitarnya. Umumnya mereka mulai berinteraksi dengan teman-temannya, guru, dan masyarakat luas. Mereka juga mulai berani untuk terlibat aktif dalam kehidupan masyarakat.
Kehidupan remaja katolik di Stasi St.Agustinus memiliki ciri khas tersendiri yakni mereka bisa saling menjalin hubungan yang baik tanpa membeda-bedakan suku. Selain itu mereka juga sering berkumpul bersama sebagai sikap persatuan dan persaudaraan. Mereka juga aktif dalam kehidupan Gereja. Namun mereka juga memiliki suatu masalah yakni kurangnya penghayatan iman terhadap Sakramen Ekaristi. Sehingga mereka perlu mendapatkan pengajaran mengenai hal ini agar mereka semakin tumbuh dan berkembang dalam iman dan semakin menghayati hidup bersama Yesus.
Sakramen merupakan tanda dan sarana karya keselamatan Allah dalam hidup manusia. Gereja Katolik mengakui tujuh sakramen, dengan Yesus sebagai pusatnya. Dari ketujuh sakramen ini, Sakramen Ekaristi menjadi salah satu sakramen yang penting. Sakramen ini sebagai sumber dan puncak kehidupan Gereja, sebab terkandung iman terdalam yakni Yesus Kristus. Sakramen Ekaristi menjadi tanda kehadiran Yesus dalam diri umatNya. Sehingga dengan menyambut Sakramen Ekaristi, Yesus telah menjadi bagian dalam hidup kita. Yesus menjadi puncak iman yang menyelamatkan kita.
Ekaristi berasal dari bahasa Yunani, yakni eucharistia yang berarti puji syukur. Istilah ini mau menekankan makna Ekaristi sebagai puji syukur atas karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus. Melalui Perjamuan terakhir antara Yesus dengan murid-muridNya menjadikan sebuah kenangan yang dipercayakan kepada Gereja untuk selalu mengenang misteri kurban Yesus. Perjamuan terakhir ini merupakan saat dimana Yesus menetapkan Ekaristi. Yesus mengubahnya menjadi sebuah perjamuan syukur bagi murid-murid-Nya, dan sebagai tanda perpisahan kepada mereka. Namun perpisahan ini tidak berarti bahwa Yesus benar-benar meninggalkan murid-muridNya dan kita semua, melainkan senantiasa menyertai kita sampai kedatanganNya kembali di akhir zaman.
Melalui Sakramen Ekaristi, kita mendapat rahmat keselamatan dari Allah. Sebab sakramen ini mengungkapkan karya keselamatan Allah yang terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Dalam Sakramen Ekaristi terdapat unsur penting yakni roti dan anggur. Unsur ini sebagai lambang dari Tubuh dan Darah Yesus yang dicurahkan bagi diri kita.

II.      Tujuan
v Umum   : Peserta menyadari bahwa Sakramen Ekaristi sebagai tanda kehadiran dan keselamatan Yesus bagi dirinya
v  Khusus  :
·  Peserta dapat menjelaskan tentang Sakramen Ekaristi
·  Peserta semakin menghayati makna Sakramen Ekaristi sebagai tanda persatuan dirinya dengan Kristus
·  Peserta dapat memberi contoh unsur penting dalam Sakramen Ekaristi
III.   Metode
·         Ceramah
·         Tanya jawab
·         Sharing
IV.   Sumber Bahan
·         Buku persiapan Krisma Suci hal 19-27
·         Mrk 14:22-25

V.      Langkah-Langkah
1.      Pembukaan
·      Nyanyian pembuka
“S’gala Puji Hormat juga Syukur”
By: Nikita
S'gala puji hormat juga syukur,
kunaikkan bagiMU,
kar'na cintaMU yang tiada terukur,
seg'nap hidupku bagiMU.
S'gala puji hormat juga syukur,
kunaikkan bagiMU,
kar'na cintaMU yang tiada terukur,
seg'nap hidupku bagiMU.
kar'na cintaMU yang tiada terukur,
seg'nap hidupku bagiMU.
·      Doa pembuka
Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin
Ya Allah Bapa sumber cinta kasih, kami mengucap syukur kepadaMu karena kami dapat berkumpul bersama di tempat ini. Kini kami hendak berproses bersama untuk memahami Sakramen Ekaristi, berkatilah dan curahkanlah Roh Kudus kedalam diri kami semua agar kami dapat mengikuti proses ini dan mendapatkan hasil baik bagi hidup kami. Terutama agar kami semakin menghayati hidup persatuan bersama PuteraMu. Demi Yesus Kristus Tuhan dan Juru Selamat Kami. Amin.
Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin

2.      Menggali Pengalaman Hidup
Ø  Pemandu memberi beberapa pertanyaan untuk mengetahui pengalaman hidup peserta. Pertanyaannya yakni sebagai berikut:
                                   1.         Apa yang teman-teman ketahui tentang Sakramen Ekaristi?
                                   2.         Apa yang teman-teman hayati mengenai Sakramen Ekaristi?
                                   3.         Mengapa teman-teman mau menerima Sakramen Ekaristi?
                                   4.         Bagaimana cara teman-teman dalam menghayati Sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari?
                                   5.         Coba ceritakanlah pengalaman teman-teman berkaitan dengan Sakramen Ekaristi!!

3.      Menggali Ajaran Gereja
Ø Pemandu mengajak peserta untuk mendalami bacaan Kitab Suci yang diambil dari Injil Mrk 14:22-25 tentang “Penetapan Perjamuan Malam”
Ø Setelah itu pemandu memberi pertanyaan pendalaman Kitab suci
                              1.  Apa yang dilakukan oleh Yesus bersama para muridNya?
                              2.  Apa saja yang dikatakan oleh Yesus dalam perikop tersebut?
                              3.  Mengapa Yesus mau mengucapkan perkataan tersebut?
                              4.  Apa makna perikop tersebut bagi teman-teman?
Ø Kemudian pemandu membuat kesimpulan dari penggalian ajaran Gereja.
Yesus menetapkan perjamuan malam sebagai wujud supaya kita selalu mengenangkan misteri penebusannya. Dalam perjamuan malam itu, Yesus sebenarnya telah menetapkan Sakramen Ekaristi, yakni melalui Air dan Anggur sebagai lambang Tubuh dan Darahnya. Dengan demikian kita mendapat anugerah untuk selalu hidup bersama Yesus dan dapat memperoleh keselamatan kekal.

4.      Pengajaran
Ø Pemandu memberi penjelasan dan pendalaman bacaan tersebut.
Teman-teman yang terkasih dalam Tuhan, melalui bacaan Injil tadi kita kembali dingatkan untuk selalu mengenangkan misteri penetapan perjamuan malam sebagai wujud penyerahan kurban dan penebusan oleh Yesus kepada kita semua. Dalam perikop tadi kita dapat dengan jelas mendengar dan melihat bagaiman Yesus menetapakan perjamuan malam dan menetapkan Sakramen Ekaristi.  Apa yang dilakukan oleh Yesus? Yesus mengambil roti dan cawan yang berisi anggur. Ia berkata sendiri bahwa Roti dan Anggur itu merupakan Tubuh dan DarahNya sendiri. Inilah yang perlu kita pahami mengenai sejarah Sakramen Ekaristi. Sakramen Ekaristi yang biasa kita sambut merupakan lambang dari Tubuh dan Darah Yesus yang dicurahkan bagi kita semua. Meskipun Yesus harus wafat dikayu salib dan bangkit kembali, namun Ia telah memberi warisan pengenangan akan misteri penebusannya.
·      Pemandu memberi penjelasan tentang Sakramen Ekaristi
Sakramen merupakan tanda dan sarana karya keselamatan Allah dalam hidup manusia. Gereja Katolik mengakui tujuh sakramen, dengan Yesus sebagai pusatnya. Dari ketujuh sakramen ini, Sakramen Ekaristi menjadi salah satu sakramen yang penting. Sakramen ini sebagai sumber dan puncak kehidupan Gereja, sebab terkandung iman terdalam yakni Yesus Kristus. Sakramen Ekaristi menjadi tanda kehadiran Yesus dalam diri umatNya. Sehingga dengan menyambut Sakramen Ekaristi, Yesus telah menjadi bagian dalam hidup kita. Yesus menjadi puncak iman yang menyelamatkan kita.
Ekaristi berasal dari bahasa Yunani, yakni eucharistia yang berarti puji syukur. Istilah ini mau menekankan makna Ekaristi sebagai puji syukur atas karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus. Melalui Perjamuan terakhir antara Yesus dengan murid-muridNya menjadikan sebuah kenangan yang dipercayakan kepada Gereja untuk selalu mengenang misteri kurban Yesus. Perjamuan terakhir ini merupakan saat dimana Yesus menetapkan Ekaristi. Yesus mengubahnya menjadi sebuah perjamuan syukur bagi murid-murid-Nya, dan sebagai tanda perpisahan kepada mereka. Namun perpisahan ini tidak berarti bahwa Yesus benar-benar meninggalkan murid-muridNya dan kita semua, melainkan senantiasa menyertai kita sampai kedatanganNya kembali di akhir zaman.
Kemudian apa yang harus kita hayati dalam Sakramen Ekaristi? Pertama-tama bahwa Sakramen Ekaristi merupakan sakramen sebagai bentuk persatuan kita dengan Yesus, dimana melaluinya kita telah mengenangkan misteri penebusanNya. Dalam sakramen ini terkandung unsur yang paling penting yakni Roti dan Anggur yang melambangkan Tubuh dan Darah Yesus. Kita juga diajak untuk semakin menghayati iman kita bersama Yesus. Sebab melalui sakramen ini, kita selalu diundang untuk ikut ambil bagian dalam misteri penebusan dosa yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Dengan demikian, melalui Sakramen Ekarsiti ini kita telah mewujudkan tanda persatuan kita dengan Kristus.
·      Pemandu memberi beberapa pertanyaan agar peserta mau membuat niat/aksi.
                                   1.       Setelah kita bersama-sama mendalami bacaan Kitab Suci dan penjelasan tentang Sakramen, pemahaman baru apa yang teman-teman peroleh?
                                   2.       Niat-niat atau aksi apa yang teman-teman lakukan agar semakin memahami dan menghayati Sakramen Ekaristi?

5.      Penutup
·      Doa penutup
Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin
Ya Allah Bapa yang Mahabaik, segala puji syukur kami haturkan kepadaMu. Kini kami telah selesai berproses bersama dalam memahami Sakramen Ekaristi. Semoga segala pengalaman, pengetahuan, keterampilan yang kami peroleh dalam proses ini sungguh bermanfaat bagii kehidupan kami. Berkatilah seluruh kegiatan kami selanjutnya ya Bapa, terutama dalam melaksanakan niat-niat atau aksi baru sehingga kami semakin bersatu bersama Dikau dalam persatuan dengan PuteraMu Yesus Kristus bersama Roh Kudus, yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.
Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin
·      Nyanyian penutup
“Pembebasku”
By: Jacqlien Celosse
Yesus t’lah menang
Kalahkan maut
Bebaskan kita yang terbelenggu
Yesus t’lah menang
B’ri sukacita bagi
M’reka yang mengasihiNya
Mari kita sambut Raja Mulia
Yang bertahta diatas pujian
Dialah pembebasku )
Dialah Perisai dalam hidupku ) 2x
Dalam hidupku )