Minggu, 17 Maret 2013

Makalah tentang Katekis



BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
Gereja mmerupakan Umat Allah yang saat ini sedang berziarah menuju kebahagiaan abadi bersama Allah. Setiap anggota Gereja memiliki peranan masing-masing dalam kehidupannya. Namun secara sederhana bahwa mereka merupakan umat yang dipanggil oleh Allah. Panggilan mereka berdasar pada sakramen permandian dan penguatan yang diterimanya. Dengan hal ini mereka dipanggil dan diutus untuk memberitakan Kabar Keselamatan kepada semua orang. Yesus merupakan teladan bagi kita semua. Selama kehidupanNya, Yesus telah mewartakan Karya Keselamatan. Yesus juga memberi perutusan kepada kita untuk mewartakan Injil kepada semua orang sebelum kenaikanNya ke surga. Perutusan inilah yang kemudian terus dihidupi oleh Gereja sebagai penerus karya keselamatan dari Yesus.
Perintah yang diberikan oleh Yesus membuat Gereja semakin menggiatkan dirinya untuk memberitakan Karya Keselamatan. Secara langsung perutusan ini diterima oleh semua anggota Gereja, sehingga Gereja mengeluarkan dekrit Apostolicam Actuositatem yang pada intinya mengajak semua anggota Gereja untuk terlibat aktif dalam mewartakan Kerajaan Allah, yang secara khusus diberikan kepada kaum awam. ,

B.  RUMUSAN MASALAH
1.    Apa pengertian katekis dan tugas pokoknya?
2.    Apa itu kerasulan awam dan pendasarannya?
3.    Apa arah dan tujuan kerasulan awam?
4.    Bagaimana ringkasan dekrit Apostolicam Actuositatem tentang panggilan awam untuk merasul, tujuan-tujuan yang harus dicapai dan pelbagai bidang kerasulan?
5.    Siapa itu katekis menurut dekrit Apostolicam Actuositatem?
6.    Bagaimana relevansi dekrit Apostolicam Actuositatem bagi kehidupan dewasa ini?

C.  TUJUAN
Dalam setiap penulisan tentunya memiliki tujuan yang hendak dicapai. Tujuan tersebut memiliki peranan yang mendorong untuk memperoleh hasil yang bermanfaat bagi kita semua. Penulisan paper ini bertujuan untuk mengetahui tentang katekis dan tugas pokoknya, mengetahui tentang kerasulan awam dan pendasarannya serta dapat memahami arah dan tujuan kerasulan awam. Penulisan ini juga memberi gambaran singkat tentang panggilan awam untuk merasul, tujuan-tujuan yang harus dicapai dan pelbagai bidang kerasulan. Semuanya itu terdapat dalam dekrit Apostolicam Actuositatem, dengan harapan ringkasan singkat yang diberikan dapat mudah dipahami. Selain itu, penulisan ini memiliki tujuan untuk mengetahui lebih mendalam tentang katekis menurut dekrit Apostolicam Actuositatem dan relevansinya bagi kehidupan dewasa ini.




BAB II
KATEKIS DALAM PERSPEKTIF DEKRIT KERASULAN AWAM

1.    PENGERTIAN KATEKIS DAN TUGAS POKOKNYA
1.1    Pengertian Katekis
Setiap orang yang dibaptis telah diangkat menjadi Umat Allah. Hal ini menyebabkan orang tersebut secara pribadi dipanggil oleh Allah untuk memberikan pewartaan bagi kedatangan Kerajaan Allah. Saat menjadi awam ada berbagai macam panggilan atau kerasulan yang berbeda-beda. Secara khusus bagi katekis yang memiliki sumber panggilan dari sakramen pembaptisan dan penguatan yang diterimanya.
Katekis adalah semua umat beriman kristiani, baik klerus maupun awam yang dipanggil dan diutus oleh Allah menjadi pewarta SabdaNya. Profesi kehidupan seorang katekis adalah mengajar dan mewartakan Sabda Allah ditengah-tengah umat. Dari pengertian tentang katekis, kita dapat mengetahui bahwa yang menjadi katekis tidak hanya kaum awam saja, para kleruspun adalah katekis. Para pastor paroki merupakan katekis utama dalam parokinya yang bertugas mengajar agama dan moral kristiani kepada umat yang dipercayakan kepadanya. Panggilan menjadi katekis ialah panggilan yang luhur. Hal ini disebabkan karena katekis mengambil bagian dalam tugas pengajaran Kristus di dunia. Sehingga seorang katekis harus mempunyai sikap mengamalkan segala hal yang telah diperolehnya kepada umat beriman. Dia menjadi batu penjuru bagi umat yang ingin mengetahui ajaran kristiani dan yang ingin mengenal Yesus sebagai penyelamat.

1.2    Tugas Pokok Katekis
“Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam Nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:19-20). Inilah perintah perutusan dari Yesus kepada semua Umat Allah, yang khususnya kepada katekis. Perutusan harus selalu dihayati secara mendalam agar katekis benar-benar menjadi pewarta yang tangguh. Dari perutusan Yesus tersebut kita dapat melihat bahwa tugas pokok katekis ialah:
Ø  Mewartakan Sabda Allah
Katekis mempunyai tugas untuk mewartakan Sabda Allah. Ini merupakan tugas perutusan yang diberikan oleh Yesus. Hal ini berarti katekis dalam kerasulannya bertugas untuk menghadirkan Sabda Allah kepada umat sesuai dengan kebutuhan yang umat hadapi. Dengan maksud untuk menghantarkan umat mencapai kepenuhan hidup Kristus.
Ø  Memberi Kesaksian
Kesaksian hidup katekis memiliki peranan penting bagi umat beriman. Sehingga dibutuhkan keselarasan rohani dan tindakan hidup. Untuk itu, sikap yang dituntut seorang katekis adalah mengamalkan segala sesuatu yang diajarkan kepada umat beriman. Katekis harus memberi contoh baik yang selaras dengan pengajarannya. Dengan demikian, kesaksian katekis dapat mendorong umat agar semakin menghayati kehidupannya agar selaras dengan ajaran Kristus.

2.    KERASULAN AWAM DAN PENDASARANNYA
2.1    Kerasulan Awam
Kerasulan awam sudah muncul dalam Gereja sejak zaman Tuhan Yesus di Yerusalem. Zaman Gereja perdana dimana Yesus sang utusan Bapa mengelilingi daerah Palestina untuk menyampaikan kasih Allah pada manusia yang berdosa. Hal ini dapat dilihat dari istilah “awam” yang dipergunakan pada zaman Perjanjian Baru, yakni “apostolos” yang berarti “yang diutus”. Namun pemikiran mengenai kerasulan awam ini baru muncul pada Konsili Vatikan II. Saat itu Konsili Vatikan II berhasil merumuskan dan memutuskan mengenai kerasulan awam dalam suatu Dekrit Konsili yang disebut dengan Dekrit Apostolicam Actuositatem atau Dekrit tentang Kerasulan Awam. Gambaran kerasulan awam dalam Konsili Vatikan II yakni “Gereja diciptakan untuk menyebarkan kerajaan Kristus di seluruh dunia demi kemuliaan Allah Bapa. Dengan demikian semua manusia mengambil bagian dalam penebusan yang menyelamatkan dan lewat mereka seluruh dunia benar-benar diarahkan kepada Kristus. Semua usaha Tubuh Mistik yang mempunyai tujuan ini dinamakan kerasulan. Kerasulan dijalankan Gereja melalui anggotanya, walaupun dengan cara berbeda-beda. Panggilan Kristen dari kodratnya adalah panggilan untuk kerasulan. Seperti dalam kesatuan badan yang hidup, tidak satu anggota pun bersikap melulu pasif, tetapi serentak mengambil bagian dalam kehidupan tubuh dan berperan dalam kegiatannya, demikian pula dalam Tubuh Kristus yakni Gereja, seluruh tubuh mengusahakan pengembangan tubuh menurut kegiatan sesuai dengan takaran tiap anggotanya (Apostolicam Actuositatem 2).
            Konsili Vatikan II memberi gambaran kerasulan awam secara luas dan menyeluruh. Kerasulan mencakup setiap kegiatan Tubuh Mistik Kristus, baik yang dilakukan di dalam Gereja maupun masyarakat atau dunia. Kata kerasulan dapat dikatakan sebagai berikut:  “Semua awam yang terhimpun dalam Umat Allah dan berada dalam satu Tubuh Kristus dibawah satu kepala, tanpa terkecuali, dipanggil untuk sebagai anggota yang hidup menyumbangkan segenap tenaga yang mereka terima berkat kebaikan Sang Pencipta dan rahmat Sang Penebus demi perkembangan Gereja serta pengudusan terus menerus. Oleh karena itu, kerasulan awam disebut sebagai partisipasi dalam misi keselamatan Gereja serta sebagai usaha menghadirkan dan mengaktifkan Gereja, khususnya bilamana hanya melalui merekalah Gereja dapat hadir.

2.2    Pendasaran Kerasulan Awam
Pendasaran kerasulan awam pada umumnya ialah dengan teologi persekutuan (theologia communionis). Pendasaran ini menekankan pada posisi dan status berbeda sambil bersamaan antara karisma imamat jabatan dan imamat umum. Menurut Paus Joannes Paulus II dimensi-dimensi dalam pendasaran teologi persekutuan ini ialah mencakup isi sentral misteri atau rencana ilahi untuk keselamatan umat manusia (Joannes Paulus II, 1998d, 19). Hal-hal yang terdapat dalam pendasaran ini yakni:
1.    Dimensi terdalam dari teologi persekutuan ialah mengenai kesatuan dan perbedaan sehingga menjadi persekutuan antara manusia dengan Allah. Dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus, umat dijadikan satu dengan persekutuan Bapa, Putera dan Roh Kudus.
2.    Persekutuan dengan Allah Putera yakni Yesus Kristus, yang dilihat lewat pendasaran kristologi pokok anggur: penggabungan orang-orang kristiani kedalam kehidupan Krsitus. Dan juga persekutuan umat dengan Roh Kudus dalam pelbagai rahmat, yang memperbarui kehidupan jemaat.
3.    Persekutuan dengan orang kudus. Dalam Credo dan katekismus kita percaya adanya persekutuan Orang Kudus dan kita bersekutu dengan mereka dalam hal memohon bantuan kepada mereka untuk mendoakan kita.
4.    Persekutuan dengan para anggota Gereja. Persekutuan ini memungkinkan komunikasi kehidupan dan cinta antara para anggota di dalam Gereja, yakni persekutuan dengan semua orang beriman.
5.    Persekutuan antara umat awam dengan imam. Kesatuan ini sangat mendalam dan bersifat hakiki yang diandaikan sebagai dasar asali: ada satu umat Allah terpilih; satu Tuhan, satu iman, satu pembaptisan (Ef 4:5).
6.    Persekutuan kolegialitas dan solidaritas. Kolegialitas (kerekanan) menunjuk kepada kesetaraan status dan posisi. Sedangkan segi solidaritas dikembangkan kerjasama pada tingkat-tingkat yang sama dan berbeda-beda dalam Keuskupan serta semangat subsidiaritas yang tetap mengakui hak-hak dan kewajiban bawahan sebanding dan bertanggung jawab.
3.    ARAH DAN TUJUAN KERASULAN AWAM
Kerasulan awam merupakan anggota Gereja yang menerima satu perutusan yakni menjadi saksi bagi misteri rencana penyelamatan Allah demi penebusan manusia. Maka arah dan tujuan kerasulan awam memiliki kesamaan dengan maksud dan tujuan Gereja. Gereja menjadi sarana bagi kerasulan awam dalam tugas perutusan untuk mewartakan Kerajaan Allah kepada semua orang. Sehingga arah dan tujuan kerasulan awam yaitu:
a.    Penginjilan
Penginjilan adalah mewartakan kabar gembira keselamatan, yakni Allah telah datang dan Yesus adalah Juru Selamat yang wafat dan bangkit untuk semua orang. Sehingga yang menjadi sentral dari pewartaan ialah Yesus Kristus.  Kerasulan awam memiliki peranan untuk mewartakan Injil kepada semua orang, dengan harapan supaya semua orang dapat mencapai kepenuhan hidup dalam Kristus.
b.   Pengudusan
Menguduskan merupakan mengkomunikasikan rahmat, membiarkan orang-orang masuk dalam penghayatan keselamatan dengan menjadi murid Kristus sepenuhnya dan dengan pengurapan Roh Kudus. Hal itu dimulai dengan iman dan permandian yang membuat kita masuk kedalam komunitas terpilih yakni menjadi Umat Allah. Sehingga kerasulan awam perlu bekerjasama dengan imam untuk menguduskan semua umat beriman agar selalu hidup dalam kasih Yesus.

4.    RINGKASAN DEKRIT APOSTOLICAM ACTUOSITATEM TENTANG PANGGILAN AWAM UNTUK MERASUL, TUJUAN-TUJUAN YANG HARUS DICAPAI DAN PELBAGAI BIDANG KERASULAN

4.1    Panggilan Awam untuk Merasul
Kerasulan merupakan upaya Gereja menyebarluaskan Kerajaan Kristus di dunia ini demi kemuliaan Allah Bapa. Setiap anggota Gereja dipanggil untuk merasul dengan mewartakan Injil, supaya dapat menggarami semua orang agar terarah pada Yesus Kristus untuk diselamatkan olehNya. Awam diserahi tugas untuk menyucikan (imamat), mengajar (kenabian) dan memimpin (rajawi). Awam memiliki ciri khas status hidup yaitu hidup di tengah masyarakat dengan banyak urusan duniawi sehingga dijiwai semangat Kristiani untuk menunaikan kerasulan mereka (Apostolicam Actuositatem 2).
Kaum awam memiliki hak untuk menerima perutusan merasul yang didasarkan pada Kristus. Mereka dipanggil untuk merasul berkat baptisan, Sakramen Krisma, dan Sakramen Ekaristi. Mereka menjalankan kerasulan dalam iman, harapan dan kasih. Mereka menerima pencurahan Roh Kudus supaya jerih payah dalam mewartakan Injil sungguh dapat diterima oleh semua orang (Apostolicam Actuositatem 3). Meskipun demikian, karya kerasulan tidak bisa dilepaskan dari Kristus sebagai sumber kehidupan Gereja. Awam perlu memiliki spiritualitas yang baik sebagai bekal dalam kegiatan merasul. Spiritualitas ini tampak dalam kehidupan rohani awam yang didorong oleh cinta kasih yang berasal dari Allah. Dalam semangat cinta kasih, awam memiliki perutusan untuk menyucikan sesamanya dengan mewartakan Kabar Keselamatan dan memanggil sesama untuk masuk dalam kepenuhan hidup Kristus. Semuanya itu tidak bisa dilepaskan dari teladan Bunda Maria, yang selalu memperhatikan semua umat yang masih berziarah di dunia ini untuk menuju kebahagiaan kekal (Apostolicam Actuositatem 4).

4.2    Tujuan-Tujuan yang Harus Dicapai
Awam melaksanakan perutusan merasul dalam kehidupan Gereja dan masyarakat umum. Secara khusus melaksanakan kerasulan dalam bidang rohani dan duniawi, yang berhubungan dengan Allah, dengan maksud mengangkat seluruh dunia menjadi ciptaan dalam Kristus. Dalam hal ini awam memerlukan bimbingan Roh Kudus secara terus menerus (Apostolicam Actuositatem 5).
Kerasulan dimaksudkan untuk mewartakan Injil dan menyucikan umat manusia. Hal ini sesuai dengan perutusan Gereja untuk keselamatan manusia. Zaman sekarang banyak kesesatan sehingga awam perlu azas-azas kristiani untuk pewartaannya (Apostolicam Actuositatem 6). Harapannya ialah supaya umat manusia membarui dan menyempurnakan tata dunia. Gereja berusaha untuk menyusun tata dunia dengan prinsip-prinsip Kristiani, sehingga seluruh tata dunia terarah kepada Allah melalui Yesus Kristus (Apostolicam Actuositatem 7). Sumber dalam pelaksanaan kerasulan ialah cinta kasih. Mencintai Allah dan sesama dalam kehidupan sehari-hari merupakan aspek penting dalam merasul. Allah telah menghimpun segenap umat manusia dalam suatu keluarga adikodrati-Nya. . Jaman modern komunikasi mengembangkan cinta kasih lebih meluas ke internasional. Mereka yang kaya, negara atau perorangan, wajib menolong yang miskin, supaya yang miskin bisa mandiri (Apostolicam Actuositatem 8).

4.3    Pelbagai Bidang Kerasulan Awam
Kerasulan awam memiliki bidang-bidang yang luas dalam lingkup Gereja dan masyarakat umum. Aneka bidang kegiatan kerasulan seperti jemaat-jemaat gerejawi, keluarga, kaum muda, lingkungan sosial, tata nasional dan internasional (Apostolicam Actuositatem 9).
Dalam jemaat gerejawi, awam berperan serta dalam tugas sebagai imam, nabi dan raja. Awam dapat membantu tugas hirarki dalam kegembalaan Gereja. Sehingga awam perlu memiliki relasi yang dekat dengan hirarki. Selain itu, relasi awam dengan Keuskupan dan Paroki menjadikan sebuah perutusan pewartaan secara bersama-sama demi keselamatan semua manusia (Apostolicam Actuositatem 10). Kegiatan kerasulan selanjutnya ialah di keluarga. Allah telah menyatukan suami dan isteri menjadi satu keluarga dalam sakramen. Suami-isteri memiliki peranan dalam pendidikan kerasulan bagi anak-anaknya. Keluarga menjadi sel penting dalam kedidupan bermasyarakat dan bersemangat untuk membantu sesama yang berkekurangan (Apostolicam Actuositatem 11). Selain itu, kaum muda memiliki peranan penting dalam masyarakat dan Gereja. Kaum muda menjadi aset dan kekuatan penting serta penerus dalam kegiatan kerasulan. Kaum muda juga perlu dialog dengan kaum dewasa untuk saling berbagi dalam perutusan merasul (Apostolicam Actuositatem 12).
Awam terpanggil untuk menyampaikan nilai Kristiani, sehingga meresapi masyarakat dalam segi-segi hidup bersamanya. Ini merupakan kerasulan bidang lingkungan sosial. Kaum Awam membawa sesama kepada Yesus Kristus dan Gereja-Nya, melalui hidup solidaritas dengan sesama warga negara (Apostolicam Actuositatem 13). Perutusan kerasulan awam memiliki peranan juga dalam kehidupan nasional dan internasional, dalam rangka menuju kesejahteraan umum. Kaum Awam mengusahakan dirinya berbobot dan jangan menolak untuk menjalankan urusan-urusan umum. Kaum awam perlu berkerjasama dengan semua orang dalam setiap bangsa yang disemangati oleh nilai-nilai Injili demi terwujudnya kesejahteraan bersama (Apostolicam Actuositatem 14).

5.    KATEKIS MENURUT DEKRIT APOSTOLICAM ACTUOSITATEM
Yesus sebelum terangkat ke surga memberi perintah kepada kita untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia (Mat 28:19-20). Yesus mempercayakan perutusan pewartaan ini kepada para rasulnya, yang kemudian di lanjutkan secara terus menerus kepada para pengikutnya (Gereja). Yesus memberi perutusan ini tidak hanya bagi segelintir orang saja, melainkan mencakup seluruh anggota Gereja. Dengan demikian, jelaslah bagi kita bahwa setiap anggota Gereja memiliki tugas untuk mewartakan Kabar Keselamatan. Namun tidak setiap orang dapat menjalankan karya pewartaan Injil. Sehingga dibutuhkan orang-orang yang memiliki panggilan khusus dari Allah sendiri. Panggilan khusus tersebut dapat dilihat dalam diri katekis. Katekis yang dimaksud disini ialah katekis awam.
Dekrit Apostolicam Actuositatem memberi gambaran sedikit tentang katekis awam. Katekis awam merupakan sebuah kerasulan dalam Gereja yang melaksanakan perutusan untuk mewartakan Injil dan menyucikan umat manusia (bdk Apostolicam Actuositatem 6), berkat pembaptisan yang menyatukannya menjadi anggota Gereja dan berkat sakramen penguatan yang meneguhkannya dalam terang Roh Kudus serta melalui Ekaristi yang memberi jiwa kerasulan untuk hidup dalam Yesus Kristus ( bdk Apostolicam Actuositatem 3). Dalam pengertian ini, kita dapat melihat bahwa kerasulan awam dapat dilaksanakan oleh katekis, tidak hanya oleh mereka yang menerima imamat khusus. Katekis berasal dari kalangan kaum awam yang berkat karunia Roh Kudus dipanggil oleh Allah untuk kegiatan merasul yang membawa keselamatan dan supaya melalui mereka seluruh dunia sungguh-sungguh diarahkan kepada Kristus. Katekis dalam dirinya memiliki panggilan berdasarkan pembaptisan dan penguatan yang diterimanya. Katekis mendapat tugas imamat umum untuk selalu bertekun dalam mewartakan Injil. Sehingga katekis merupakan salah satu bentuk kerasulan yang memiliki peranan penting dalam kehidupan Gereja, yakni mewartakan Kabar Keselamatan agar dirasakan oleh mereka yang menerima pewartaan. Dengan demikian, perutusan yang diberikan Yesus untuk mewartakan Injil semakin dapat dirasakan oleh mereka yang menerima panggilan, khususnya bagi katekis yang berasal dari kaum awam dalam Gereja katolik, dengan tujuan untuk keselamatan semua orang dan menghantarkan mereka mencapai kepenuhan untuk hidup bersama Kristus.

6.    RELEVANSI DEKRIT APOSTOLICAM ACTUOSITATEM BAGI KEHIDUPAN DEWASA INI
6.1    Bagi Calon Katekis
Kehidupan calon katekis saat ini memiliki tantangan yang begitu besar. Penyebabnya ialah berbagai macam tuntutan kebutuhan yang semakin kompleks. Salah satu tuntutan tersebut dapat dilihat dari pendidikan yang diterimanya, dimana calon katekis mendapat kedisiplinan ketat dari lembaga pendidikan agar semakin bisa menjadi katekis yang tangguh. Namun semuanya itu terkadang kurang bersifat fleksibel, sebab kurang menyesuaikan dengan keadaan dan kemampuan para calon katekis. Sehingga terkadang bisa membuat calon katekis mengeluh dan bosan dengan kehidupan yang diterimanya. Tetapi disisi positif, keadaan seperti ini membuat calon katekis belajar mandiri untuk mengolah situasi yang ada dan semakin giat belajar demi tugas perutusan yang diterimanya untuk mewartakan Sabda Allah di tengah-tengah masyarakat. Sehingga calon katekis menyadari betul bahwa panggilannya menjadi katekis sungguh berasal dari Allah.
Dengan keadaan calon katekis saat ini, dekrit Apostolicam Actuositatem memberikan manfaat baik bagi calon katekis. Dekrit ini memberi peneguhan bahwa menjadi katekis merupakan sebuah panggilan luhur untuk melaksanakan perutusan mewartakan Kerajaan Kristus kepada semua orang supaya memperoleh keselamatan kekal demi kemuliaan Allah Bapa. Calon katekis merupakan awam yang dengan pembaptisan menerima tri tugas Kristus untuk dilaksanakan di dunia ini. Panggilan kristani merupakan panggilan untuk merasul (bdk Apostolicam Actuositatem 2) sehingga menjadi katekis merupakan sebuah panggilan kerasulan sebab setiap orang dipanggil oleh Allah untuk mewartakan Injil. Calon katekis sebenarnya mendapat panggilan untuk kegiatan kerasulan yang berarti mendapat tugas perutusan untuk mewartakan Sabda Allah demi keselamatan semua manusia. Dengan demikian, kehidupan calon katekis saat ini merupakan persiapan kegiatan kerasulan untuk mewartakan sabda Allah kepada semua manusia.
Dalam dekrit ini dikatakan bahwa awam mendapat haknya untuk ikutserta dalam perutusan Gereja. Perutusannya yakni menyebarluaskan Kerajaan Kristus dimana-mana demi kemuliaan Allah Bapa. Dalam hal ini, calon katekis merupakan kaum awam, sehingga mengambil bagian untuk menerima perutusan Gereja yang diberikan oleh Allah. Ditengah situasi liku-liku kehidupan calon katekis, dekrit ini memberi peranan penting yakni calon katekis diarahkan untuk mengolah dirinya dengan baik agar mereka dapat menemukan bahwa hidupnya dipanggil oleh Allah untuk karya pewartaan Kabar Keselamatan di dunia ini. Calon katekis perlu pembinaan yang baik agar hidupnya semakin terarah pada Kristus. Maka dengan adanya dekrit ini dapat menyadarkan dan membangun calon katekis bahwa mereka memang dipanggil oleh Allah untuk mewartakan Kabar Keselamatan kepada semua manusia.

6.2    Bagi Umat  Beriman Kristiani (Kaum Awam)
Dekrit ini menggambarkan bahwa kaum awam memiliki panggilan untuk menerima perutusan merasul. Merasul menjadikan awam untuk menjalankan tugas mewartakan Injil kepada semua orang. Dewasa ini banyak tuntutan kebutuhan yang harus dipenuhi, misalnya kebutuhan rohani. Kebutuhan ini masih kurang mampu untuk dipenuhi para klerus yang mendapat hak untuk tugas kegembalaan. Sehingga kaum awam memiliki peranan penting untuk membantu klerus dalam memenuhi kebutuhan ini. Salah satu kegiatannya ialah dengan kerasulan awam. Sebab kerasulan awam bersumber pada panggilan kristiani mereka sendiri sehingga mereka juga memiliki hak untuk menjalankan tugas perutusan dari Kristus.
Bagi umat beriman kristiani (kaum awam), dekrit ini memberi dorongan supaya mereka juga ikut dalam kegiatan kerasulan. Umat kristiani adalah anggota Gereja, yang memiliki panggilan berkat permandian untuk bersatu dengan Kristus dan penguatan untuk meneguhkan semangat hidupnya dalam Kristus. Sehingga kaum awam diajak untuk mengambil bagian dalam perutusan Gereja. Dekrit ini memberi kesadaran baru bahwa kaum awam juga memiliki hak untuk mewartakan Injil kepada semua orang. Namun dalam kenyataan sehari-hari, banyak umat awam yang belum menyadari hal ini. Mereka lebih aktif untuk menerima pelayanan dari para imam saja. Mereka belum menyadari bahwa perutusan untuk mewartakan Injil merupakan hak semua umat beriman. Dalam keadaan ini, maka perlunya sosialisasi atau pengajaran tentang dekrit ini kepada umat awam. Terutama bagi mereka yang sudah megetahui tentang dekrit ini setidaknya memberi peneguhan atau pengajaran kepada umat bahwa mereka dipanggil untuk karya pewartaan.
Pengajaran dari mereka yang telah mengetahui dekrit ini merupakan salah satu langkah supaya umat awam juga menyadari bahwa menjadi anggota Gereja berarti ikutserta menerima perutusan Gereja. Sehingga umat awam diharapkan untuk ikut aktif dalam kegiatan merasul. Meskipun demikian, umat awam juga membutuhkan pembinaan supaya tidak menyesatkan saat menjalankan tugas kerasulan. Upaya-upaya yang dapat digunakan misalnya dengan rekoleksi, latihan rohani, pendalaman iman (Kitab Suci), dan sebagainya. Dengan demikian, kegiatan seperti ini diharapkan umat awam semakin menghayati makna kehidupannya sebagai anggota Gereja untuk berperan dalam perutusan mewartakan Injil di dunia ini.




BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
            Setiap orang dipanggil oleh Allah untuk karya pewartaan di dunia ini. Hal ini merupakan sebuah anugerah bagi mereka yang dengan bahagia menyadari dan menanggapi panggilan tersebut. Yesus memberi perintah kepada kita untuk pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil (Mat 28:19-20). Perintah ini berarti kita semua memiliki hak untuk mewartakan Injil. Salah satu sikap menerimanya ialah dalam kerasulan awam. Kerasulan awam menjadi upaya untuk mewartakan Kerajaan Allah di tengah-tengah masyarakat.
            Salah satu bidang kerasulan awam ialah katekis. Katekis yang dimaksud disini ialah katekis dari kaum awam. Katekis ini memiliki peranan penting dalam kegiatan kerasulan sebab berkat pembaptisan mereka dipersatukan dengan Kristus. Mereka dipanggil untuk menjalankan tugas pewartaan Injil. Dekrit ini memberi gambaran bahwa katekis merupakan sebuah kerasulan dalam Gereja yang melaksanakan perutusan untuk mewartakan Injil dan menyucikan umat manusia yang berkat pembaptisan yang menyatukannya menjadi anggota Gereja dan berkat sakramen penguatan yang meneguhkannya dalam terang Roh Kudus serta melalui Ekaristi yang memberi jiwa kerasulan untuk hidup dalam Yesus Kristus. Hal ini berarti katekis sebenarnya ialah awam yang merasul. Mereka menjalankan semangat kerasulan dalam terang Roh Kudus dan semuanya itu merupakan anugerah dari Allah sendiri.
            Dekrit Apostolicam Actuositatem mengatakan bahwa semangat kerasulan sangat kuat zaman dulu, sedangkan saat ini mulai terpengaruhi oleh adanya kemajuan teknologi dan bertambahnya manusia. Konsili menginginkan agar semangat kerasulan tidak hilang melainkan terus dihidupi, sehinga konsili mendorong supaya semua anggota Gereja (khususnya kaum awam) ikut terlibat kegiatan kerasulan. Hal ini penting supaya semua manusia mengalami keselamatan dalam Yesus Kristus. Kegiatan merasul pun memiliki pelbagai bidang kehidupan dan semuanya mengarah pada karya pewartaan Injil di dunia ini. Karena kerasulan memiliki bidang-bidangnnya maka cara untuk mewartakan Karya Keselamatan pun beranekaragam sesuai dengan bidangnya masing-masing. Dalam hal ini, dibutuhkan pembinaan tertentu bagi mereka yang ikutserta dalam kegiatan merasul sehingga semangat kerasulannya tidak hilang, bahkan selalu dihidupi untuk senantiasa mewartakan Injil agar semua manusia bisa mengalami keselamatan.
            Secara khusus bagi calon katekis yang saat sedang mempersiapkan diri. Kehidupanya saat ini memang banyak dipenuhi tantangan yang terkadang membuat mereka sering mengeluh. Meskipun demikian, dengan adanya dekrit ini bisa memberikan semangat bagi calon katekis untuk tetap semangat untuk tugas perutusan yakni mewartakan Karya Keselamatan Allah kepada semua orang. Bagi semua umat beriman kristiani, dekrit ini memberi gambaran bahwa mereka juga menerima perutusan untuk mewartakan Sabda Allah. Hal ini berarti mereka memiliki hak untuk karya perutusan ini.


DAFTAR PUSTAKA

Hardawiryana, R. 1993. Dokumen Kosili Vatikan II. Jakarta: Obor
Komkat Keuskupan Padang. 1988. Spiritualitas Sang Katekis. Padang
Komkat KWI. 1997. Pedoman untuk Katekis. Yogyakarta: Kanisius
Lokakarya Nasional Kerawam. 1986. Kerasulan Awam. Jakarta: KWI
Sinaga, Anisetus B. 1993. Awam Triniter. Jakarta: Obor
Tomko, Josef. 1987. Panggilan dan Perutusan Awam dalam Gereja dan Dunia sesudah KV II. Jakart
Tondowidjojo, John. 1990. Arah dan Dasar Kerasulan Awam. Yogyakarta: Kanisius



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar